KISAH KE 27



          ASAL MULA KESUFIAN IBRAHIM BIN ADHAM
Salah satu kelompok orang-orang alim disebut kaum sufi. Kaum sufi adalah kaum yang sangat mencintai Allah. Mereka sengaja meninggalkan hiruk pikuk dunia dan senantiasa berzikir kepada Allah. Ciri kaum ini adalah hidup dalam keterbatasan, dan mereka senang berpakaian putih-putih. Kaum sufi bekerja hanya sekadar untuk makan, tidak mengejar harta benda lainnya.

Ada seorang tokoh sufi terkenal bernama Ibrahim ibnu Adham al-Balkhi. Ia adalah lulusan sekolah sufi khurasan yang mengajarkan disiplin diri dan hidup sederhana. Ibrahim berasal dari keluarga bangsawan di Balkh. Suatu ketika Sultan Ibrahim ibnu Adham pergi ke hutan untuk berburu. Di hutan lebat itu, dia melihat sebuah benteng tua. Disana ia melihat sebuah pilar batu yang besar. Ketika ia mencoba mencabut batu dari pilar itu, dia menemukan harta terpendam. Ibrahim sejenak tercenung. Ia telah memperoleh pendidikan tentang kehidupan.

"Aku akan memberikannya kepada fakir miskin," pikirnya, dan kemudian pergi. Tidak berapa lama, sultan Ibrahim ibnu Adham melihat seorang fakir miskin sedang mengumpulkan ranting kering. Ia merasa senang karena bertemu dengan orang yang dicarinya.

"Ikutlah bersamaku," katanya," aku akan menunjukkan kepadamu harta yang akan membuatmu senang dan bahagia sepanjang hidupmu."

Tukang kayu tua itu mendongak perlahan dan menjawab tenang,"Baiklah, Tuan. Ambillah harta itu untuk dirimu sendiri. Anda lebih memerlukannya dari pada hamba. Hamba telah mengetahui perihal harta itu sejak hamba anak-anak."

Ketika mendengar itu, Sultan Ibrahim merasa sangat malu. Ia sangat takjub dengan kejujuran orang miskin itu."Tukang kayu itu lebih berhak menjadi raja daripada aku yang hanya memikirkan kekayaan,"pikirnya. Sultan terus memikirkan peristiwa ini. Kemudian, ia pun menyerahkan kerajaannya kepada orang lain.

Sultan Ibrahim ibnu Adham juga memutuskan meninggalkan kekayaan, keluarga, dan orang-orang yang dicintainya. Ia kemudian terkenal sebagai seorang sufi yang meninggalkan hiruk pikuk kehidupan dunia. Kehidupannya diisi dengan membaca Al-qur'an dan berzikir. Ia mengembara dan makan sekadarnya dari hasil cucuran keringatnya.
JAKARTA  23/5/2013

View the original article here

0 komentar:

Poskan Komentar

Total Tayangan Laman

Blog's Archives